Gema Pembaharuan
Hukum & Kriminal Pertanahan dan Tata Ruang

Endus Pemalsuan Surat dan Penggelapan Hak Tanah, Pelapor Penuhi Panggilan Polisi

Muhamad Jam’u S.Ag, SH (kanan) saat memberi keterangan

Tasikmalaya, gemapembaharuan.com,- dari pemberitaan sebelumnya dan laporan Crew lipitan khusus (Timlipsus) wartawan Gema Pembaharuan diketahui Kuasa pendamping ahliwaris H. Aping (alm) bernama Muhamad Jam’u S.Ag, SH sebagai pelapor, akhirnya memenuhi undangan klarifikasi di Polres Tasikmalaya Kota, pada hari Sabtu 01 Mei 05 2021.

Klarifikasi tersebeut sesuai surat undangan B/686/IV/2021/Sat Reskrim, perihal: Klarifikasi untuk dimintai keterangan atas tindaklanjut laporan pengaduan (Lapdu) tertanggal 30 November 2020 adanya dugaan tindak pidana  penyerobotan, pemalsuan surat dan atau penggelapan atas hak barang  yang tidak bergerak.

sehubungan hal tujuan dilakukan  upaya hukum  dalam penanganan permasalahan hak tanah yang diketahui merupakan harta benda milik dari H. Aping bin Madroji. “ya tentunya sesuai tujuan dilakukan upaya hukum  yang tidak lain adalah agar menjamin adanya  kepastian hukum terhadap apa yang menjadi hak para ahli waris almarhum H. Aping tersebut,”  ungkap Muhamad Jam’u kepada timlipsus  sesaat usai dimintai keterangan di mapolres Tasikmalaya Kota, (1/5/2021) kemarin.

Merujuk kepada:   

  1. laporan pengaduan tanggal 30 November 2020 dari kuasa ahli waris H. Aping Sdr.Muhamad Jam’u, S.Ag.,SH, tentang dugaan tindak pidana pemalsuan surat dana tau penggelapan hakatas barang yang tidak bergerak;
  2. Surat perintah Tugas Nomor Sprin.Gas/298/IV/2021/Sat Reskrim, tanggal 08 April 2021; dan
  3. Surat perintah penyelidikan nomor: Sprin Lidik/193/IV/2021/Sat Reskrim, tanggal 08 April 2021.

Klarifikasi dan Intograsi sebagai tindak lanjut dari Laporan Pengaduan (Lapdu) sebelumnya terkait tindak pidana pemalsuan surat dana atau penggelapan hak atas barang yang tidak bergerak, Pada hari sabtu 1 mei 2021 yang berlangsung selama kurang lebih 7 jam, mulai pukul 10.00 s.d 17.00 sore hari ini, 

Permintaan keterangan dan Introgasi oleh Ateng Jaelani Penyidik Sat. Reskrim, Kepolisian Daerah Jawa Barat, Resor Tasikmalaya Kota, terhadap pelapor terkait perkara kasus dugaan penggelapan dan pemalsuan dokumen pemilikan hak tanah ahli waris mendiang H. Aping bin Madroji yang berada di wilayah Kelurahan Yudanagara, Kecamatan Cihideung, Kota Tasikmalaya dan objek atas hak pemilikan tanah di wilayah Desa Nusawangi, Kecamatan Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya.

Didepan penyidik, Aiptu Ateng Jaelani, Jam’u yang saat itu didampingi GP membeberkan peristiwa serta dokumen yang diduga piktif yang digunakan para pelaku dalam menghabisi seluruh asset milik H. Aping.

Dalam keterangannya didepan penyidik, Jam’u menyebut beberapa nama yang diduga sebagai pelaku tindak pidana penyerobotan dan pemalsuan dokumen terkait asset tanah milik H. Aping.

Dijelaskan Jam’u, dokumen yang diduga piktif tersebut diantaranya adalah, Kartu Keluarga (KK) yang dikeluarkan Disduk Kabupaten Cirebon. dua buah kwitansi dan APPHB (Akta Pemisahan Pembagian Hak Bersama) bernomor 304/Chd/1997  yang diterbitkan Kecamatan Cihideung, Kota Tasikmalaya, dimana dalam kwitansi dan APPHB tersebut membubuhkan nama dan tandatangan Cucu, salah satu ahliwaris H. Aping. Seolah-olah semua itu atas pengetahuan dan persetujuan Cucu. “Padahal baik kwitansi maupun APPHAB, Cucu tidak mengetahuinya sama sekali. Jangankan menandatanganinya, menginjakan kakinya saja ke kantor kecamatan bu Cucu belum pernah sama sekali.” Tandas Jam’u. 

Sementara itu, Cucu, merupakan 1 (satu) dari 3 (tiga) bersaudara kandungnya yakni: Eddi  (alm) dan Oce (alm) anak dari hasil pernikahan resmi H. Aping  dengan istri pertamanya Asih alias Kalsih, dengan didampingi anaknya H. Ena Permana, kepada Gp dirumahnya  menjelaskan. Bahwa semasa hidupnya, H. Aping  memiliki asset berupa tanah sawah, darat, kurang lebih 2 hektare, serta beberapa bangunan rumah diwilayah Kecamatan Cisayong dan Kecamatan Cihideung, juga beberapa buah jongko di Pasar Cikurubuk, Dua unit kendaraan roda empat, perhiasan berlian dan emas kurang lebih 2,5 Kg. Semua itu habis dibagi-bagi oleh orang-orang yang mengaku ahliwaris Maryam, isteri sirri kedua H. Aping. Padahal, dari pernikahan sirri Siti Maryam dengan H. Aping tidak memiliki keturunan.

Disinggung soal pencatutan nama dan tandatangan di kwitansi dan APPHB, dengan tegas Cucu membantah, bahwa dirinya tidak tahu menahu. “Saya tidak penah tahu adanya kwitansi dan APPHB tersebut. Jangankan menandatangani, tahu saja tidak. Lagian dari sejak kecil sampai sekarang belum pernah saya menginjakan kaki ke kecamatan itu. Kecuali sewaktu saat mengklarifikasi APPHB dimaksud.” Jelas Cucu.  

Jam’u berharap, pihak kepolisian dapat segera mengungkap dan menggiring semua para pihak terkait pelaku yang terlibat dalam kasus ini. 

“Sebagaimana instruksi presiden dan perintah, Kapolri untuk memberangus mafia tanah yang merugikan masyarakat sebagai pemilik yang syah. Dimana dalam penegakan hukum, pihak APH (Aparat Penegak Hukum) tidak pandang bulu menindak siapapun pemain dibelakang para mafia tanah.” Tutur Jam’u.     (Timlipsus/Guyu)    

Related posts

Penyerobotan Tanah Seluas 0,27 Ha di Kota Mataram Kini Masuk Babak Baru Dipersidangan

Adam Wahyu

Haa, Oknum Pegawai Disdukcapil “Makelar” e-KTP terjaring OTT Saber Pungli

Kembara Nanda

Belum lama Bebas Penjara, Mantan Bupati Bogor Masuk Tahanan Lagi

Kembara Nanda

Leave a Comment